>WELCOME >< WELCOME >< WELCOME<

Jumat, 12 Juni 2009

Trouble shooting CDI & KOIL

Trouble Shooting
Cek CDI dan Koil Mati
Cek dulu bagian CDI!

Koil, biasanya sulit dijangkau. Makanya CDI dulu yang dicek
OTOMOTIFNET - Pernah alami mogok di jalan? Ya, gara-gara pengapian mendadak hilang. Penyebab perginya api busi untuk membakar campuran bensin dan udara akibat tiga faktor yang saling berhubungan! Akibat busi, koil atau CDI yang bermasalah. Melacaknya bisa dirasakan dari gejala yang timbul.

Mulai dari busi yuk! Mengeceknya, mudah! Lepaskan busi dari dudukan, lalu tempelkan ke mesin. ON kan kontak dan c
oba starter, jika tidak keluar api coba ganti busi baru. Jika api meletik, berarti busi bermasalah.
Tapi jika setelah ganti busi baru namun api tetap tidak mau meletik, berlanjut ke koil dan CDI. Pengecekan pertama, bisa dilakukan lewat cara melepas kepala busi dan dekatkan ujung kabel koil ke mesin. Coba starter, kalau tidak ada api yang keluar, berarti ada kemungkinan salah satu dari dua peranti vital itu bermasalah.
“Perhatikan juga gejala yang ditimbulkan sebelum motor mati,” saran Songa dari Putera Zidane di Jl. H Mencong, Ciledug, Tangerang. Menurut mekanik tinggi ini, CDI bermasalah bisa dipastikan ketika mesin panas dan motor sudah dipakai lama. Tapi setelah dingin, motor kembali hidup. Kondisi ini bisa lama, berlangsung hingga CDI benar-benar mati total. Akhirnya, tidak mengeluarkan api sama sekali.
Lain hal dengan koil. Biasanya sebelum mati total, tetap mengeluarkan percikan. Ngeceknya dalam keadaan busi terlepas dan kontak di-ON-kan akan mengeluarkan api. Tapi, jika busi terpasang malah tidak memercikan api. Ini berarti koil lemah syahwat. Buruan ganti sebelum modar alias mati!
Service Guidance
Pengaruh Celah Busi Terhadap Konsumsi BBM
Celah alias gap busi yang sering dianggap sepele, ternyata bisa jadi faktor penyebab borosnya konsumsi BBM di motor. Makanya perawatan rutin alias servis berkala jadi sangat penting dilakukan. Salah satunya, pengecekan celah busi untuk mendapat konsumsi BBM paling ideal.
Kalau penasaran, bisa tengok buku servis yang sudah jadi kelengkapan sejak motor masih anyar. Setiap motor punya celah busi yang sudah disarankan pabrikan. Bila penyetelan di luar ketentuan, tak hanya BBM yang amblas, tetapi akselerasi dan top speed bisa tersunat.
Mesin ditahan pada 3000 rpm dengan asumsi econo ride pada kisaran ini
Celah busi disetel ulang pada 0,40 mm, 0,60 mm dan 0,80 mm
Hubungannya dengan kinerja mesin sangat erat dengan waktu pengapian dan besarnya percikan api di ruang bakar. “Kalau celah busi terlalu rapat, tarikan awal sedikit berkurang dan gejala ngelitik terasa karena mesin menjadi cepat panas,” jelas David Ahie, mekanik balap yang piawai di soal pengapian mobil.
Sebaliknya bila celah terlalu renggang, percikan api memang menjadi besar namun disertai penurunan stasioner (langsam) karena timing pengapian menjadi mundur. Berbuntut tenaga mesin menjadi enak tetapi konsumsi lebih boros.
Jadi, menurut Ahie sebaiknya setelan busi dibuat pas atau sesuai standar pabrik saja bila untuk pemakaian harian. “Kalau mau irit, rapatkan sedikit sekitar 0,1 mm atau gunakan patokan celah terkecil yang disarankan pabrik,” terangnya.
Biar tidak penasaran, OTOMOTIF melakukan tes komparasi celah (kerenggangan) busi di Suzuki Thunder 125 yang masih ‘perawan’ dari pabrik. Tes pakai busi anyar versi aftermarket merek Denso dengan kerenggangan 0,40 mm, 0,60 mm dan 0,80 mm.
Pakai bensin sejumlah 50 cc, mesin dihidupkan dengan putaran mesin konstan di 3.000 rpm. Asumsinya adalah pada putaran ini mesin dalam kondisi econo ride. Lalu mesin dihidupkan sampai 50 cc di gelas takar habis yang dibarengi pencatatan waktu. Hasilnya cukup mengagetkan mengingat perbedaan celah busi hanya terpaut 0,20 mm setiap setelan. Dari penghitungan tes, kondisi celah busi pada setelan 0,60 mm paling hemat karena butuh waktu paling lama buat menghabiskan 50 cc bensin; 8,05 detik.
Sementara pada setelan 0,40 mm, bensin sebanyak 50 cc habis dalam waktu lebih cepat (7,43) detik yang dibarengi dengan suhu mesin lebih tinggi. Lain lagi saat busi disetel pada celah 0,80 mm. Bensin 50 cc di gelas takar habis hanya dalam waktu 6,48 detik. Dari data komparasi ini sangat menjelaskan bagaimana kerenggangan celah busi bisa berpengaruh ke konsumsi.

0 komentar:

Poskan Komentar

GLADUG NOORBLUES © 2008. Design by :Yanku Templates Sponsored by: Tutorial87 Commentcute